"ibu...."jerit marni yg tergopoh berlari-lari dengan deraian air mata,ia tak lagi perduli hujan membasahi tubuh mungilnya ataupun tajam kerikil menusuk-nusuk telapak kakinya yang mulai kebal dengan aspal,yang ia tahu ibunya tengah kritis meregang nyawa,petugas ambulan membantu marni untuk masuk ke dalam mobil,dan memberinya selimut agar marni tak kedinginan,"ibu.....jangan pergi,marni tak punya siapa-siapa lagi,ibu harus kuat,ibu harus sembuh....."isak tangis marni semakin mengiris hati,kedua petugas ambulan tak kuasa menahan tangis,mereka hanya bisa menghibur marni dengan dekapan kasih,"sabar ya dek....yakinlah ibu pasti akan baik-baik saja"tukas salah satu petugas itu.Ambulan melaju berpacu dengan waktu seiring itu pula rintih sayem ibunda marni menahan sakit.
Marni gadis kecil berkulit sawo matang,diusia nya yang masih belia ia harus rela menjadi tulang punggung keluarga,ia harus rela putus sekolah dari bangku kelas lima nya,berkejaran dengan waktu,banting tulang demi sesuap nasi dan biaya pengobatan ibunya, sayem wanita paruh baya yang telah kurang lebih 5 tahun mengidap penyakit TBC,tekanan batin akibat terlalu memikirkan suaminya yg tlah lama menghilang,tubuh lusuhnya hanya dibalut kulit kering,matanya mulai cekung,sayem sadar marni tak seharusnya menanggung beban seberat ini,namun apa daya tangan dan kakinya tlah lumpuh sehingga tak kan mampu menunaikan peran sebagai orang tua,sayem hanya bisa pasrah ditengah lirih doanya agar ia cepat berpulang saja,mugkin dengan kepergiannya beban marni akan lebih ringan.
Bibir marni tak henti mengucap doa,ia terus mendampingi sayem,tak lama kemudian dokter dan suster meminta marni menunggu di ruang tunggu UGD yg tampak sepi,telah 1 jam berlalu marni mulai cemas gemuruh didadanya seakan membuncah membuat nafasnya kian sesak,marni mulai teringat ayahnya yg tlah 6 tahun menghilang bak ditelan bumi,entah dimana dia kini,marni tak berharap lebih,marni juga ikhlas jika memang ayahnya tak berniat tuk kembali,marni hanya ingin tahu kabarnya kini."adek anaknya?"sapa dokter seraya mengelus rambut marni yg lecek,"iya,pak dokter,bagaimana dengan ibu saya?" mata marni mulai berkaca namun penuh binar harap,"ibu adek keadaannya kurang baik,kinerja paru-paru ibu mulai lamban,jadi diperlukan perawatan secara intensif disini untuk beberapa hari atau minggu",marni lemas sekujur tubuhnya seperti mati rasa,yg ada dibenaknya campur aduk tak karuan,ia bingung menginap dirumah sakit memerlukan uang yg tidak sedikit,sedangkan penghasilannya dari mengamen dijalan hanya cukup untuk makan,dengan pasrah ia meng ia kan saja permintaan dokter."saya boleh menjenguk ibu pak dokter?" "oh...silahkan dek,nanti suster yg akan mengantar kamu menuju kamar dimana ibu mu dirawat,tabah ya,yakinlah ibu pasti sembuh" sembari tersenyum.
"ibu bagaimana dadanya masih sesak?"tanya marni penuh cemas,sayem hanya menggeleng,bibirnya tak mampu berucap kondisi tubuh sayem lunglai,hanya matanya yg berbinar meski sedari tadi bulir-bulir bening mengalir tanpa henti,marni menggenggam tangan sayem,"ibu jangan nangis,ibu harus kuat,ibu harus sembuh,ibu jangan hawatir,ada marni yg akan merawat ibu,marni sayang ibu" sembari mengecup tangan sayem tanda bakti,tangis sayem menjadi,"marni pulang dulu ya bu,mengambil baju-baju ibu,karna pak dokter bilang ibu harus dirawat untuk beberapa hari,marni akan kembali mememani ibu besok pagi,tak mengapa kan bu",sayem mengangguk tangannya menggenggam erat tangan marni tanda setuju dan seraya berkata untuk berhati-hati dijalan.
Selang setengah jam marni sampai digubug reotnya,adzan subuh berkumandang,ia bergegas mengambil wudhu lalu segera menunaikan sholat,isak tangisnya tumpah bibirnya tak henti mengiba meminta pada ALLAH beberapa hal bahkan mugkin banyak hal,terutama untuk kesembuhan sayem ibunda tercintanya satu-satunya tempat ia bersandar didunia.Setelah selesai sholat marni mulai membereskan baju-baju ibunya tak lupa mukenah marni tahu meski sakit ibunya tak pernah sekalipun meninggalkan sholat,semua telah beres,marni bergegas ke luar menuju rumah pamannya yg hanya berselang 3 rumah dari gubug reotnya.
tok...tok....tok"assalamualaikum" tiga kali marni berucap,tak lama kemudian pintu dibuka,laki-laki muda berumur 35 tahun tlah berdiri tegap dihadapannya dengan brengos dan muka sinis "ada apa,pagi-pagi sudah mengganggu saja?",sebetulnya marni enggan merepotkan pamannya yg terkenal kaya didesanya itu,sesusah apapun hidupnya marni selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain apa lagi pamannya yang notabene membenci ia dan ibunya dikarenakan almarhum nenek memberikan semua warisan pada ibunya dulu,bukannya berniat tidak adil,nenek beralasan melakukan itu,karna nenek tahu ibu dan ayahnya dulu miskin,"paman,ibu dirawat dirumah sakit keadaannya kritis,mugkin untuk beberapa hari,dan saya tidak punya uang untuk biayanya,sudi kah paman memberi saya pinjaman,nanti akan saya kembalikan dengan cara menyicil"........pamannya tertawa sinis "kamu pikir kamu siapa,kamu pikir kamu punya apa sebagai jaminan...hah...."bentak pamannya sinis,"jual saja gubug reot dan tanah mu itu untuk biaya berobat,saya tidak punya uang"......braaakk...pintu ditutup,seketika marni kecil linglung,dunia terasa gelap.
Sayem masih tersungkur memeluk nisan beku bertuliskan nama gadis kecil yg mugkin kini tlah berada disurga bersama bidadari~bidadari....Marni ananda tercinta yg rela mengorbankan ginjalnya demi kesembuhan ibunda yg terkasih,Sayem tak menyangka anak semata wayangnya akan senekad itu,kemarin sewaktu dalam perjalanan menuju ke rumah sakit marni bertemu seorgang ibu~ibu dan berbincang~bincang dengannya,ibu itu adalah makelar pembeli organ tubuh manusia entah tlah berapa orang yg menjadi korbannya meski dibayar tetapi tetap saja kejam bagaimana bisa berjualan organ tubuh manusia,dunia memang sudah edan,mereka mencari makan dengan menghalalkan segala cara,sadis,"kenapa menangis adik manis"tanya ibu gendut itu...."saya lapar bu.."marni menjawab dengan lirih..."orang tuamu dimana nak,kenapa kau ditinggal sendirian"...semakin penasaran ibu itu bertanya..."ayah ku entah kemana,aku hanya punya ibu dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit bu"....sambil mengusap air matanya marni menjawab,...."lalu apa yang kau lakukan disini sendirian,kamu seperti sedang bingung nak"....ibu itu membelai rambut marni...."saya bingung bu,saya tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan ibu dirumah sakit"...dengan terisak marni menjelaskan....mata ibu itu langsung berbinar seraya berkata dalam hati...hem korban baru nih...."adek mau ibu bantu?" marni mengangguk....."begini,anak ibu sedang sakit,ginjalnya rusak dan tidak bisa berfungsi lagi,bagaimana kalau adek berbagi satu ginjal dengan anak ibu,nanti ibu akan tukar dengan sejumlah uang yg bisa adek gunakan untuk biaya pengobatan ibu....bagaimana?"....marni bingung,tak lama berfikir ia menyetujui tawaran ibu itu,ia tak perduli resiko apapun,yg ia tahu ibu harus sembuh,singkat cerita...semua tlah selesai...oprasi berjalan lancar...marni tampak bahagia melihat ibunya kembali sehat dan tampak lebih segar,marni mengenalkan ibu~ibu tadi pada sayem dan berdalih bahwa ia adalah seorang donatur yg menanggung semua biaya pengobatan sayem,betapa tak henti sayem bertrima kasih pada ibu itu,selang beberapa bulan marni mulai sakit~sakitan,tambah hari tambah parah,lalu sayem membawanya ke rumah sakit namun takdir berkata lain di tengah perjalanan marni menghembuskan nafas terakhirnya dengan membawa rahasia yg ibunya takkan pernah tau.....kini tinggallah sayem seorang diri,hidupnya lebih baik dari sebelumnya uang hasil menjual ginjal marni kemarin masih lebih banyak lalu oleh sayem dipergunakan untuk merehab rumah dan berdagang kecil~kecilan.
Selamat jalan marni kamu adalah malaikat kecil yg TUHAN kirim dari surga untuk ibunda.......tersenyumlah impian mu untuk membahagiakan bunda tlah terlaksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar